oleh Myana Benn & Farrah Soeharno
Mengapa Perlu Merestorasi Ekosistem ini?
Hutan mangrove dan lahan gambut termasuk di antara ekosistem paling berharga sekaligus paling terancam di Indonesia. Dalam kondisi sehat, lahan basah ini menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam tanahnya, menyeimbangkan sistem perairan, menunjang keanekaragaman hayati, serta mendukung mata pencaharian masyarakat setempat. Ekosistem ini berfungsi sebagai penyangga alam yang tangguh terhadap perubahan iklim dan gangguan lingkungan.
Ketika mengalami degradasi, ekosistem-ekosistem ini justru menjadi sumber ancaman. Lahan gambut yang dikeringkan menjadi gersang dan mudah terbakar, sehingga melepaskan karbon yang tersimpan ke atmosfer serta membahayakan masyarakat akibat kebakaran, polusi udara, dan penurunan pendapatan. Hutan mangrove yang terdegradasi melemahkan perlindungan pesisir, meningkatkan ancaman banjir, dan menurunkan produktivitas perikanan (Mishra dkk., 2021). Di berbagai wilayah Indonesia, konversi lahan skala besar dan praktik pertanian yang tidak sesuai dengan lahan gambut telah mempercepat degradasi ini, dengan dampak yang melampaui batas-batas lanskap individu.

Memulihkan kedua ekosistem ini bukan hanya kewajiban untuk menjaga lingkungan, tetapi juga merupakan strategi untuk mengurangi risiko iklim dan memperkuat ketahanan sosial-ekonomi. Upaya pemulihan yang hanya berfokus pada langkah-langkah teknis atau model baku seringkali gagal menghasilkan hasil yang berkelanjutan. Pemulihan yang berkelanjutan bergantung pada pemulihan fungsi ekologis sekaligus penguatan mata pencaharian, kelembagaan, dan sistem pengelolaan lahan jangka panjang. Solusi Berbasis Alam mengintegrasikan aspek-aspek ini melalui bukti ilmiah, pengetahuan masyarakat, dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Bagaimana I-CAN Menerapkan Pendekatan Solusi Berbasis Alam (NbS)?
Nature-based Solutions atau Solusi berbasis Alam merupakan aksi untuk melindungi, merestorasi, dan mengelola ekosistem secara berkelanjutan dengan cara memberikan manfaat baik untuk masyarakat dan alam. I-CAN menerapkan I-CAN sebagai sebuah pendekatan terintegrasi yang menghubungkan bukti ilmiah, pengetahuan masyarakat, dan pengelolaan lanskap jangka panjang.
Bekerja sama erat dengan masyarakat lokal dan berbagai mitra, I-CAN berfokus pada pemulihan fungsi ekosistem sekaligus mendukung mata pencaharian yang berkelanjutan.
- Pada lahan gambut, hal ini mencakup rewetting tanah untuk menaikkan permukaan air tanah, replanting dengan tanaman asli lahan gambut, dan memperkenalkan sistem agroforestri yang ramah gambut yang mengurangi risiko kebakaran sekaligus menghasilkan pendapatan.
- Pada ekosistem mangrove, NbS menekankan pemulihan hidrologi alami dan proses ekologi, termasuk rewetting tanah, replanting pada plot-plot tertentu, dan penerapan agroforestri sosial.
Dengan mengacu pada penelitian terapan dari IPB dan pengalaman lapangan di seluruh Indonesia, pendekatan I-CAN memahami bahwa ketahanan ekosistem dalam jangka panjang bergantung pada restorasi hidrologi, pemulihan vegetasi, serta penyelarasan restorasi dengan kondisi ekonomi lokal dan kebutuhan masyarakat.
Living Laboratory Kami
I-CAN mengimplementasikan NbS melalui Living Lab di Jambi dan Lampung, termasuk lokasi restorasi lahan gambut di Jambi dan lokasi restorasi hutan mangrove di Lampung. Living Lab ini berfungsi sebagai ruang pembelajaran di lapangan di mana pendekatan restorasi dikembangkan bersama dengan masyarakat, teruji di lapangan, dan disempurnakan seiring waktu.
Lebih dari sekadar menerapkan model yang kaku, Living Lab memungkinkan praktisi, peneliti, dan anggota masyarakat untuk mengamati apa yang berhasil, menyesuaikan intervensi, serta mendokumentasikan keberhasilan dan kegagalan secara terbuka. Bukti yang dihasilkan dari berbagai lokasi ini membantu menyempurnakan desain restorasi, mengembangkan kapasitas lokal, serta mendukung berbagi pengetahuan yang menjadi masukan bagi upaya berkelanjutan, proses perencanaan, dan implementasi kebijakan di tingkat kabupaten dan provinsi.
Guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai cara kerja Laboratorium Hidup ini dalam praktiknya, silakan baca publikasi kami yang berjudul “I-CAN Living Laboratory: Memajukan Solusi Berbasis Alam Terapan di Seluruh Indonesia.” Publikasi ini mendokumentasikan berbagai pendekatan restorasi di wilayah lahan gambut dan hutan mangrove, menguraikan kerangka kerja kolaboratif yang diterapkan di berbagai lokasi, serta membagikan wawasan lapangan mengenai restorasi hidrologi, pengembangan agroforestri, penguatan kelembagaan masyarakat, dan pengelolaan adaptif.
Ketergantungan Ekologis Solusi Berbasis Alam
Solusi Berbasis Alam yang efektif tidak bersifat umum untuk semua. Strategi restorasi harus disesuaikan dengan kondisi ekologis dan sosial masing-masing lokasi.
Restorasi yang efektif di lahan gambut dimulai dengan memahami kedalaman gambut, hidrologi, vegetasi, serta kebutuhan mata pencaharian masyarakat setempat. Pengalaman di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa keberhasilan bergantung pada pengelolaan air dalam skala lanskap, koordinasi di antara para pelaku restorasi, serta perhatian terhadap penguasaan lahan, kapasitas tata kelola, dan pemanfaatan hidrologi gambut oleh masyarakat. Jika faktor-faktor ini diabaikan, restorasi berisiko gagal akibat buruknya pengendalian air, berulangannya kebakaran, dan kurangnya keselarasan kelembagaan. Sebaliknya, pendekatan yang menggabungkan penilaian biofisik yang baik dengan partisipasi masyarakat, pengelolan adaptif, dan kolaborasi lintas sektor lebih berpeluang untuk mencapai pemulihan ekologi yang berkelanjutan serta memberikan manfaat sosial-ekonomi (Lestari dkk., 2024).
Pada ekosistem mangrove, hal ini berarti memprioritaskan pemulihan hidrologi pasang surut, dinamika sedimentasi, dan kondisi ketinggian yang memungkinkan mangrove beregenerasi secara alami. Bukti menunjukkan bahwa penanaman saja seringkali gagal jika proses-proses mendasar ini terus terganggu, sedangkan memulihkan aliran air dan memberikan ruang bagi proses pesisir alami dapat mempercepat pemulihan dengan minim intervensi. Penanaman kembali dapat memainkan peran pelengkap di mana sumber benih terbatas atau pemulihan perlu dipercepat, tetapi hanya setelah kondisi habitat dipulihkan. Pendekatan berbasis proses ini mengakui bahwa restorasi mangrove yang berkelanjutan bergantung pada kerja sama dengan ekosistem alam dan konteks lokal, bukan dengan memaksakan solusi yang seragam di seluruh lanskap yang berbeda-beda (Winterwerp et al., 2025).
Dengan menargetkan tantangan yang spesifik sesuai konteks, NbS digunakan untuk merestorasi dan menciptakan masa depan ekosistem yang berkelanjutan. Melalui penerapan NbS berdasarkan data ekologi setempat dan pengetahuan masyarakat, I-CAN mendukung jalur restorasi yang ramah lingkungan, inklusif secara sosial, dan berkelanjutan dalam jangka panjang, memastikan bahwa restorasi mencakup pemulihan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.
Referensi:
Arifanti, V. B., Basyuni, M., Suharti, S., Slamet, B., Karlina, E., Sidik, F., … Ali, H. M. (2025). Assessing the Environmental and Socioeconomic Impacts of Mangrove Loss in Indonesia: A Synthesis for Science-Based Policy. Forest Science and Technology, 21(4), 430–446. https://doi.org/10.1080/21580103.2025.2536595
IUCN. (2024). Nature-based Solutions. IUCN. https://iucn.org/our-work/nature-based-solutions
Lestari, N.S., Rochmayanto, Y., Salminah, M., Novita, N., Asyhari, A., Gangga, A., Ritonga, R., Yeo, S. and Albar, I. (2024), Opportunities and risk management of peat restoration in Indonesia: lessons learned from peat restoration actors. Restor Ecol, 32: e14054. https://doi.org/10.1111/rec.14054
, , , et al. Degradation of Southeast Asian tropical peatlands and integrated strategies for their better management and restoration. J Appl Ecol. 2021; 58: 1370–1387. https://doi.org/10.1111/1365-2664.13905